Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit Aceh Jaya Dorong Pendapatan Petani

Selasa, 27 Januari 2026 | 12:00:55 WIB
Kenaikan Harga TBS Kelapa Sawit Aceh Jaya Dorong Pendapatan Petani

JAKARTA - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Aceh Jaya kembali mengalami kenaikan pada akhir Januari 2026. Data terbaru menunjukkan harga tertinggi mencapai Rp 2.820 per kilogram, naik Rp 20 dibandingkan harga sebelumnya, sedangkan harga terendah berada di kisaran Rp 2.770 per kilogram.

M Nasir, pengelola salah satu Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Aceh Jaya, mengonfirmasi kenaikan harga tersebut pada Jumat, 26 Januari 2026. Ia menyebutkan bahwa lonjakan harga ini sejalan dengan tren kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global.

“Untuk saat ini, harga tertinggi buah sawit menyentuh Rp 2.820 per kilogram dan harga terendah Rp 2.770 per kilogram,” ujar Nasir. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga TBS biasanya mengikuti pergerakan harga CPO dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan harga CPO terjadi akibat permintaan global yang terus meningkat. Kondisi ini mendorong sejumlah PKS di Aceh Jaya menyesuaikan harga beli TBS agar sejalan dengan nilai CPO terkini.

Pada tender tanggal 23 Januari 2026, harga CPO berada di angka Rp 14.800 per kilogram. Saat ini, harga CPO sudah naik menjadi Rp 14.950 per kilogram, membuka peluang TBS kembali meningkat dalam beberapa minggu ke depan.

Para pengelola PKS menilai bahwa kenaikan ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas harga sawit di Aceh Jaya. Peningkatan harga TBS diharapkan berdampak langsung pada pendapatan petani lokal.

Perbedaan Harga TBS di Setiap PKS

Di Aceh Jaya, harga TBS tidak seragam antar PKS. Misalnya, PKS Juli Prima di Teunom membeli TBS dengan harga Rp 2.820 per kilogram, sementara unit Juli Prima lainnya di wilayah yang sama membeli dengan harga Rp 2.770 per kilogram.

Sementara itu, PT Syaukat yang berlokasi di Gampong Alue Piet, Kecamatan Panga, menetapkan harga TBS sebesar Rp 2.790 per kilogram. Perbedaan harga ini juga dipengaruhi oleh kualitas buah sawit yang diterima masing-masing PKS.

Nasir menjelaskan bahwa PKS Syaukat menerima buah sawit berkualitas super dengan potongan cukup besar. Sedangkan di ASN dan Juli Prima, kualitas buah masih masuk kategori sedang sehingga potongan harga lebih kecil.

Variasi kualitas TBS ini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan harga beli. PKS biasanya menyesuaikan harga sesuai standar mutu buah yang mereka terima.

Perbedaan harga juga bisa memengaruhi strategi petani dalam menentukan PKS tujuan pengiriman TBS. Petani cenderung mengutamakan PKS dengan harga lebih tinggi dan potongan lebih ringan.

Selain itu, fluktuasi harga CPO menimbulkan dinamika dalam menentukan harga TBS di setiap pabrik. Pengelola PKS harus memastikan harga tetap kompetitif agar tetap menarik bagi petani pengirim.

Dampak Kenaikan Harga TBS bagi Petani

Kenaikan harga TBS disambut baik oleh para petani sawit di Aceh Jaya. Mereka menilai kenaikan ini dapat membantu meningkatkan pendapatan di tengah biaya operasional yang terus meningkat.

Bagi petani skala kecil, selisih harga Rp 20–50 per kilogram dapat memberikan tambahan pendapatan signifikan setiap bulan. Kondisi ini juga menjadi motivasi bagi petani untuk terus meningkatkan kualitas buah yang dihasilkan.

Kenaikan harga TBS tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga pada kesejahteraan petani dan keluarganya. Peningkatan penghasilan memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan berinvestasi kembali ke perkebunan.

Selain itu, tren kenaikan harga ini mendorong semangat petani dalam merawat kebun agar menghasilkan TBS berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas buah juga berdampak positif pada reputasi petani di mata PKS.

Seiring harga CPO yang terus bergerak naik, peluang harga TBS mengalami kenaikan lanjutan semakin terbuka. Petani berharap tren ini berlanjut sehingga stabilitas pendapatan dapat terjaga dalam jangka panjang.

Peningkatan harga TBS di Aceh Jaya juga menunjukkan hubungan erat antara pasar global dan ekonomi lokal. Petani secara langsung merasakan dampak fluktuasi harga komoditas dunia terhadap kehidupan sehari-hari mereka.

Nasir menambahkan, PKS tetap berkomitmen membeli TBS dengan harga yang adil. Hal ini penting agar para petani tetap termotivasi menghasilkan buah dengan mutu terbaik.

Dengan harga TBS yang naik, petani Aceh Jaya merasa lebih optimistis menghadapi musim panen berikutnya. Kenaikan ini juga menjadi indikator positif bagi industri kelapa sawit di tingkat regional.

Kenaikan harga TBS kelapa sawit di Aceh Jaya menjadi kabar baik bagi petani dan PKS lokal. Lonjakan harga CPO menjadi faktor utama yang memicu penyesuaian harga beli TBS.

Perbedaan harga antar PKS menunjukkan pentingnya kualitas buah dalam menentukan nilai jual. Petani yang mampu menghasilkan TBS berkualitas tinggi akan menikmati keuntungan lebih besar.

Tren kenaikan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga mendorong kesejahteraan petani. Optimisme terhadap harga sawit yang lebih stabil di masa depan menjadi harapan bagi seluruh pelaku industri kelapa sawit di Aceh Jaya.

Terkini