JAKARTA - Harga minyak mentah kembali bertahan di dekat level tertinggi 16 minggu setelah dolar Amerika Serikat melemah signifikan. Selain itu, pasar global juga menyoroti ancaman Presiden Donald Trump terhadap Iran yang menambah ketidakpastian geopolitik.
West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik 0,2% menjadi US$62,52 per barel pada Rabu, 28 Januari 2026, pukul 07:37 pagi di Singapura. Harga ini berada di dekat US$63 per barel setelah melonjak 2,9% pada sesi sebelumnya, mencapai level tertinggi sejak awal Oktober.
Sementara itu, Brent untuk penyelesaian Maret ditutup 3% lebih tinggi menjadi US$67,57 per barel pada Selasa, 27 Januari 2026. Kenaikan ini menunjukkan optimisme pasar terhadap permintaan minyak meskipun ada ketidakpastian global.
Pengaruh Pelemahan Dolar terhadap Minyak
Indikator dolar AS anjlok ke level terendah hampir empat tahun pada Selasa, 27 Januari 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Trump menyatakan bahwa ia tidak khawatir terhadap depresiasi mata uang AS.
Dolar yang lebih lemah membuat komoditas seperti minyak dan emas menjadi lebih menarik bagi pembeli internasional. Hal ini mendorong permintaan minyak yang membuat harga tetap tinggi meskipun pasokan global cukup stabil.
Kebijakan Trump yang tidak dapat diprediksi, termasuk ancaman untuk mengambil alih Greenland, juga turut mendorong volatilitas pasar. Ketidakpastian politik membuat investor mencari aset komoditas sebagai lindung nilai.
Ancaman Geopolitik dan Pengaruhnya pada Pasar Minyak
Presiden Trump menegaskan pada Selasa bahwa "armada besar" sedang menuju Timur Tengah. Namun, ia menambahkan harapannya bahwa AS tidak perlu menggunakan kekuatan militer tersebut.
Selain itu, Trump memperbarui ancamannya terhadap kepemimpinan Teheran dalam menangani protes masyarakat. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Ancaman geopolitik di Timur Tengah selalu menjadi faktor penting yang memengaruhi harga minyak global. Investor pun terus memantau perkembangan untuk menilai risiko terhadap pasokan dan harga di masa depan.
Tren Harga dan Reaksi Pasar
Harga WTI dan Brent yang melonjak menunjukkan bahwa pasar minyak sedang dalam suasana risk-on. Investor bersiap menghadapi kemungkinan fluktuasi harga yang lebih tinggi akibat faktor ekonomi dan politik.
Bahkan dengan kenaikan harga ini, para analis memperingatkan bahwa pasar masih rentan terhadap perubahan cepat. Ketidakpastian geopolitik dan pergerakan dolar menjadi kombinasi yang menantang bagi stabilitas harga minyak.
Kenaikan harga minyak juga terjadi meski badai musim dingin mengganggu operasi kilang di Texas. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan global cukup kuat untuk menopang harga, meskipun ada gangguan pasokan lokal.
Prospek dan Strategi Investor
Investor terus menilai bagaimana kebijakan Trump memengaruhi pasar minyak dan nilai dolar. Pelemahan mata uang AS memicu minat baru pada minyak, tetapi risiko geopolitik tetap menjadi perhatian utama.
Dengan armada militer AS yang bergerak menuju Timur Tengah, pasar minyak menghadapi ketidakpastian tambahan. Para trader memperhitungkan potensi gangguan pasokan yang bisa mendorong harga lebih tinggi di tengah permintaan global yang stabil.
Pergerakan ini juga mencerminkan sensitivitas harga minyak terhadap berita geopolitik dan kebijakan ekonomi AS. Minyak mentah tetap menjadi aset strategis bagi investor global, apalagi ketika dolar melemah.
Kombinasi pelemahan dolar dan ketegangan geopolitik menciptakan tekanan naik pada harga minyak. Investor global perlu mempertimbangkan risiko ini saat membuat keputusan perdagangan dan strategi portofolio.
Pasar minyak dunia menunjukkan ketahanan terhadap tekanan eksternal. Meski ada ketidakpastian, permintaan tetap kuat dan harga minyak mendekati level tertinggi dalam 16 minggu terakhir.
Kenaikan harga minyak menjadi indikasi bahwa pasar sedang menyesuaikan diri dengan dinamika global. Investor akan terus mengawasi perkembangan geopolitik, nilai dolar, dan kondisi ekonomi untuk menentukan arah selanjutnya.
Pelemahan dolar membuat komoditas berbasis mata uang AS semakin menarik. Sementara ancaman geopolitik menambah ketegangan yang bisa mendorong volatilitas pasar lebih lanjut.
Harga minyak yang tinggi juga memicu perhatian pasar finansial terhadap kemungkinan inflasi global. Hal ini berdampak pada strategi investasi dan keputusan pemerintah terkait energi dan ekonomi.
Trader dan analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa mengalami fluktuasi cepat jika ketegangan geopolitik meningkat. Pemantauan terhadap pernyataan Trump dan situasi di Timur Tengah menjadi kunci untuk memahami pergerakan pasar.
Meski demikian, pasar minyak menunjukkan kemampuan untuk tetap stabil dalam menghadapi faktor eksternal. Investor global terus mengawasi kombinasi antara pelemahan dolar dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga.
Peningkatan harga minyak ini menunjukkan bagaimana pasar bereaksi terhadap kombinasi ekonomi dan politik. Keseimbangan antara permintaan global, pasokan, dan sentimen investor menentukan arah pergerakan harga.
Dengan armada AS yang menuju Timur Tengah dan dolar melemah, harga minyak diperkirakan tetap berada pada level tinggi. Pasar akan terus sensitif terhadap setiap perubahan kondisi geopolitik dan kebijakan ekonomi AS.